//
you're reading...
Keuangan Negara

Utang sebagai Solusi bagi APBN

BAB I

Pendahuluan

 

Utang atau dalam konteks ini utang negara berdasarkan Undang-Undang nomor 1 tahun 2004 merupakan jumlah uang yang wajib dibayar pemerintah pusat dan/atau kewajiban pemerintah pusat yang dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, perjanjian, atau berdasarkan sebab lain yang sah.

Utang sering kali menjadi permasalahan yang pelik dalam lingkup nasional, karena telah tertanam dalam benak mayoritas masyarakat sebuah doktrin general yang memberikan sinyal buruk terhadap utang, khususnya utang negara. Namun ternyata utang merupakan salah satu bagian penting dalam menetapkan kebijakan fiskal dimana juga merupakan begian dari suatu sistem besar yang disebut pengelolaan ekonomi.

Sehingga dalam pelaksanaannya, pengadaan utang negara seringkali menjadi topik bahkan senjata utama dalam pembahasan isu sosial, ekonomi dan politik. Dampak yang diperkirakan pun beragam, mulai dari yang berdasarkan pada perhitungan yang jelas dan terperinci hingga pada perkiraan yang gamblang diutarakan berdasarkan logika praktis. Tidak hanya kaum elit, namum publik pun mulai ikut menduga-duga akan dampak dari utang negara yang notabene makin meningkat nominalnya.

Lebih tingginya tingkat kenaikan Pendapatan Nasional Bruto (PDB) terhadap tingkat kenaikan nominal utang, menjadi senjata utama pemerintah dalam mengantisipasi pandangan buruk publik terhadap pengadaan utang negara. Disisi lain pandangan umum publik pun seolah tidak bergeming, seolah meragukan pernyataan pemerintah dan pandangan buruk terhadap utang negara pun terus merebak hingga ke pelosok negeri. Rakyat kecil pun mulai bersuara, karena masalah kelaparan, putus sekolah ketiadaan jaminan kesehatan bagi rakyat miskin dan sebagainya pun masih mewabah.

Alhasil kebijakan pengadaan ataupun penghentian utang pun mulai ikut dipengaruhi oleh faktor politik, apapun latar belakangnya. Tentu hal ini akan berdampak tidak baik, terkhusus bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan demikian ada dua poin yang harus diketahui dengan baik yaitu hakekat dan peranan utang dalam APBN, dan apa yang sesungguhnya harus diperhatikan dan dilaksanakan pemerintah dalam menanggapi doktrinasi publik yang negatif terhadap utang negara.

Sehingga dapat diluruskan perspektif publik terhadap utang negara, sesuai dengan hakekat awal pemerintah dalam pengadaan utang dan pengendalian atas risikonya, serta pengaruhnya terhadap APBN.

 

BAB II

Pembahasan

 

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau yang biasa disingkat APBN merupakan rencana keuangan tahunan pemerintah pusat yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). APBN memuat rincian yang sistematis atas rencana pendapatan yang akan diterima dan nilai pagu maksimal yang akan dibelanjakan oleh negara. Namun tidak selalu merunut terhadap sumber daya yang dimiliki, nilai belanja negara, berdasarkan instrumen kebijakan APBN sejak reformasi keuangan negara hingga kini, disesuaikan dengan prioritas kebutuhan yang sungguh harus dipenuhi serta unsur regulasi yang ada didalamnya.

Oleh karena kebijakan tersebut, tidaklah aneh jika nilai pendapatan dan belanja berbeda. Tanpa memungkiri jumlah kebutuhan yang banyak dan justru makin meningkat serta didukung kebijakan regulasi, maka hingga kinipun Indonesia masih menerapkan sistem penganggaran defisit. Hal inilah yang menyebabkan terdapat kolom pembiayaan dalam APBN untuk mengisi nilai pendapatan pembiayaan (netto) yang diperlukan untuk menutupi kekurangan pendapatan negara, yang masih belum dipastikan hingga kapan.

Seperti manusia pada umumnya, bila pengeluaran yang sungguh dibutuhkan lebih besar dari pendapatan yang diperolehnya, maka berbagai macam cara pun diupayakan agar kebutuhannya dapat terpenuhi. Pada hakekatnya, tidak berbeda jauh dengan suatu negara yang juga memiliki keterbatasan sumber daya dan nilai kebutuhan lebih banyak. Banyak cara yang dapat dipilih dari sekian banyak opsi untuk memenuhi kebutuhannya seperti penjualan aset yang dimiliki, utang dan lainnya. Namun dari semuanya itu, utang (terlepas apapun jenisnya) merupakan instrumen yang paling sering digunakan pemerintah dalam pelaksanaan APBN, karena memiliki tingkat risiko yang dapat dikendalikan, tingkat fleksibilitas yang tinggi (dari segi waktu, jenis dan sumbernya), dan kapasitas yang sangat besar.

 

 

Fungsi Utang

Tidak hanya untuk menutupi defisit anggaran, masih dalam kaitannya dengan APBN, utang juga memiliki fungsi lain yaitu menutupi kekurangan kas atas kebutuhan kas jangka pendek dalam pelaksanaan belanja yang tidak dapat ditunda, dimana seringkali terjadi di awal tahun anggaran dan instrumen yang sering digunakan adalah Surat Berharga Negara atau biasa disebut SBN. Dalam pelaksanaanya SBN dijual lebih banyak porsinya di awal tahun atau semester awal dibandingkan pada semester akhir, strategi ini dikenal dengan strategi front loading.

Masih berdampak langsung terhadap APBN, utang dengan berbagai macam opsi jenis dan sumber memiliki berbagai macam tingkat risiko dapat dijadikan solusi dalam penataan portofolio utang pemerintah yang tentu dimaksud untuk mengurangi beban belanja untuk membiayai utang dalam APBN di tahun-tahun berikutnya. Serta dapat memitigasi risiko utang agar tetap terkendali sesuai perencanaan awal dan tidak memberikan beban berlebih pada APBN.

Dari fungsi-fungsi tersebut, dapat disimpulkan secara gamblang bahwa utang merupakan cara untuk menyelesaikan berbagai macam masalah tanpa menyebabkan permasalahan baru. Namun pendefinisian ini baru bisa dibenarkan bila utang dapat dikelola dengan baik sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Demikianlah utang dapat menjadi suatu solusi yang menyelesaikan permasalahan mayor bangsa ini, yaitu pemenuhan kebutuhan.

 

Pandangan Terhadap Utang

Sesungguhnya hal tersebut diatas, masih belum dapat diterima oleh sebagian besar kalangan masyarakat. Utang masih memiliki konotasi negatif yang dianggap menunjukkan kebobrokan pemerintah dan akibat dari pengaruh politik yang buruk dari petinggi bangsa ini. Tanpa ingin membahas lebih lanjut hal-hal politis, pendapat dan persepsi masyarakat terhadap utang saat ini tidak dapat dipersalahkan sepenuhnya.

 

Sebab

Ada dua faktor utama yang menyebabkan persepsi publik yang negatif terhadap utang negara, yaitu kekurangpahaman publik terhadap utang dan adanya sebagian kecil belanja negara yang tidak pro-rakyat, bahkan telah di-ekspose.

Kekuranganpahaman publik terhadap utang disini bukanlah lagi hal yang bersifat teoritis, namun lebih ke arah pandangan praktis yang berkembang mengenai utang negara. Publik berpendapat bahwa utang negara Indonesia semakin hari semakin besar, sehingga hal ini dinilai dapat menyebabkan terjadinya krisis berkepanjangan dan sungguh kondisi yang sepert ini juga dinilai menjadi masa yang sangat rentan terhadap interfensi bangsa lain yang ingin mengambil keuntungan dari Indonesia.

Kembali dalam hubungannya dengan APBN, persepsi ini tidak sepenuhnya salah, namun perlu ditelaah lebih dalam lagi bahwa hal tersebut tidak akan terjadi bila pengelolaan utang dijalankan dengan baik mulai dari pemilihan jenis ataupun instrumennya, penggunaan, hingga pengembalian pokoknya. Harus disadari dengan baik antara dampak dari pelaksanaan utang dan dampak dari pengelolaan utang. Walaupun pengelolaan utang juga merupakan bagian dari pelaksanaan utang, dan permasalahan yang dibahas ini bersifat harafiah, namun pemahaman yang baik atas dampak ini dapat memperbaiki citra buruk instrumen utang dan pelaksanaan utang yang memang sungguh harus dilakukan dapat dilaksanakan tanpa dihalang-halangi faktor lain seperti kebijakan demi pencitraan politik ataupun hal lain.

Setiap instrumen utang memiliki tingkat risikonya masing-masing dan tiap risiko memiliki dampak yang mungkin dapat diakibatkan dikemudian hari. Untuk ini dibutuhkan suatu pengelolaan yang baik untuk mengendalikan risiko utang dan dampak yang mungkin terjadi. Tentu saja bila dikelola dengan baik dampak yang diakibatkan tentu dampak yang baik sesuai dengan perencanaan awal. Sebaliknya bila tidak dikelola dengan baik sebagaimana mestinya tentu dampak yang diakibatkan pun buruk, dan bila masih terjadi, sesungguhnya hal inilah yang mengakibatkan persepsi publik terhadap utang makin memburuk. Namun sejak dibentuknya Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) sebagai bagian dari Kementerian Keuangan, fokus pemerintah terhadap pengelolaan utang mulai membuahkan hasil yang signifikan. Demikian tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan utang negara seharusnya meningkat, namun masih ada satu lagi alasan yang merupakan faktor utama stagnanisasi persepsi masyarakat terhadap utang.

Utang atau apapun jenis pembiayaan, pada hakekatnya merupakan upaya yang dilakukan untuk menutupi kekurangan pendapatan, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sungguh dibutuhkan. Namun ternyata ada faktor non-teknis dibaliknya, baik yang terlupakan ataupun disengaja yaitu segala hal yang mengakibatkan terdapat beberapa mata anggaran belanja yang dinilai publik merupakan pemborosan. Isu nasional yang berhubungan dengan eksekusi belanja APBN seperti pembangunan gedung DPR, proyek percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah Transmigrasi (PPIDT) di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, hingga isu yang paling hangat yaitu renovasi ruang rapat Banggar DPR yang mencapai 20 milyar rupiah. Dalam kondisi masyarakat yang demikian, dimana tingkat kemiskinan, kelaparan, dan putus sekolah masih tinggi, isu faktual tersebut sungguh merupakan pukulan berat bagi publik dan berdampak cukup rentan terhadap kredibilitas pemerintah yang notabene dianugrahi kewenangan fiskal khususnya dalam menyusun perencanaan anggaran. Inilah yang menjadi penyebab utama kurangnya rasa percaya masyarakat terhadap kapabilitas pemerintah dalam mengelola APBN terkhusus dalam pengambilan keputusan untuk pengadaan utang.

Setinggi apapun kemampuan pengelolaan utang pemerintah, namun bila mengambil risiko yang tidak perlu karena pengadaan utang yang sesungguhnya tidak begitu dibutuhkan, dapat dikatakan bahwa hal ini merupakan tindakan pemborosan yang tidak sesuai dengan prinsip ekonomi dan investasi. Hal ini telah diperkuat dengan adanya beberapa mata anggaran belanja seperti tersebut sebelumnya, yang bila nilai belanjanya ditiadakan atau setidaknya lebih diminimalisir sesuai dengan prinsip kesederhanaan, akan dapat mengurangi akumulasi jumlah anggaran pendapatan pembiayaan yang bersumber dari utang.

Dengan demikian, utang dengan tingkat urgensi yang rendah dapat diminimalisisr atau bahkan ditiadakan demi efisiensi dan efektifitas pengelolaan utang yang notabene akan menjadi beban bagi APBN sebaik apapun pengelolaannya. Tentu saja harus ada fokus yang baik dalam hal ini untuk memperkuat dan memperkokoh basis institusi yang memiliki tupoksi dalam pengelolaan utang negara yaitu DJPU, agar tidak sekedar menjadi lembaga yang memberikan jaminan pengelolaan utang yang baik, yang justru merangsang minat para oknum untuk melakukan pengadaan utang walau sesungguhnya tidak perlu untuk dilakukan.

Bila kedua permasalahan pokok tersebut dapat diantisipasi dengan baik oleh pemerintah, maka tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kredibilitas dan kapabilitas pemerintah tentu akan meningkat. Dan tidak akan ada faktor apapun terkhusus kepentingan politik yang dapat menghalangi utang menjadi salah satu opsi yang efektif dan efisien sebagai solusi bagi defisit, kekurangan kas,  dan permasalahan lainnya dalam APBN.

 

BAB III

Penutup

 

Saran

Keseluruhan upaya “pencitraan utang” tersebut tidak akan tercapai tujuannya bila hanya diupayakan oleh DJPU, ataupun oleh Kementerian Keuangan saja. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa dalam satu siklus APBN terdiri dari berbagai macam proses mulai dari perencanaan, penganggaran, eksekusi, pengawasan hingga pertanggungjawaban, dan keseluruhan proses tersebut tidak hanya dilaksanakan oleh kementerian keuangan, namun juga oleh seluruh instansi hingga tiap-tiap satuan kerja. Oleh karena itu, mindset atau pola pikir yang lama yaitu rasa takut atas pengurangan anggaran di tahun berikutnya harus dihilangkan. Karena menyebabkan rasa sayang karena tidak mendapatkan jatah anggaran yang sesungguhnya tidak begitu penting. Dan hal-hal seperti ini bila tidak dapat dikendalikan atau diawasi dengan baik, justru akan memperburuk sistem penganggaran di tengah kondisi APBN yang defisit.

Disamping itu masih ada latar belakang dari kebijakan penganggaran defisit, yaitu sebagai stimulus fiskal dan ditujukan untuk peningkatan Pendapatan Nasional Bruto (PDB). Secara teori merupakan sebuah alasan yang kuat dan dapat dinilai secara kuantitatif serta dapat dipertanggungjawabkan. Namun bila kita berkaca kembali pada faktor non-teknis seperti hal-hal yang didasari faktor sosial dan politik, pertanggungjawaban sesungguhnya ada pada realita yang sunggu dialami masyarakat sekarang, seperti angka kemiskinan, jaminan kesehatan dan pendidikan dan lain sebagainya. Tanpa menghakimi siapapun, bila kebijakan yang sama masih dipertahankan, hendaknya dilaksanakan dengan baik tidak hanya oleh pembuat kebijakan namun juga oleh semua pihak yang terlibat. Agar tujuan dari hekekat kebijakan tersebut dapat terpenuhi dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Untuk itu, kesatuan seluruh instansi kementerian/lembaga yang ada dalam pemerintahan dalam proses penyusunan APBN amatlah diperlukan. Karena perencanaan yang baik, matang dan berfokus pada kebutuhan masyarakat akan menghasilkan upaya yang baik dalam pemenuhan kebutuhan melalui sumber pendapatan yang ada serta pembiayaan yang paling efisien dan efektif seperti utang.

 

Kesimpulan

Sangat sulit bagi manusia modern dimasa kini untuk dapat meloloskan diri dari utang, karena pada hakekatnya manusia merupakan makhluk dengan tingkat kebutuhan yang tidak terbatas.

Demikian juga dengan bangsa ini yang bahkan menyandang status sebagai negara berkembang. Ditengah pergolakan sosial, ekonomi dan politik yang gencar, amatlah sulit memastikan kapan negara ini terbebas dari utang.

Namun dari keseluruhan opini tersebut, belum ada satupun yang memberikan pernyataan kuat bahwa utang merupakan sesuatu yang tidak baik. Namun pengelolaan yang buruk terhadap intrumen utang, apapun itu, tentu mengakibatkan dampak yang tidak baik, khususnya bagi beban APBN kedepannya. Melalui pembahasan sebelumnya dapat diyakini hal sebaliknya, yaitu jika utang dapat dikelola secara baik justru dapat menjadi obat atau solusi terhadap berbagai macam permasalahan dalam APBN sebagai sumber pembiayaan defisit, menutup kekurangan kas jangka pendek, memperbaiki portofolio utang terdahulu dan lainnya.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa utang hanyalah sebuah cara untuk menyelesaikan beberapa pokok permasalahan penting dalam APBN, pada hakekatnya utang diadakan untuk menyelesaikan permasalahan yang penting dengan tingkat risiko yang sebanding ataupun lebih kecil. Sehingga pengelolaan yang baik harus dilakukan oleh pihak terkait, dalam hal ini Kementerian Keuangan (cq. DJPU) dan tidak cukup hanya pada pengelolaan utang saja. Harus diperhatikan juga hal yang mendasari pengadaan utang, yaitu proses perencanaan APBN. Proses ini harus dapat dilaksanakan dengan baik, sesuai prinsip dan mekanisme sebagaimana telah diatur pada instrumen terkait. Sehingga secara tidak langsung semua pihak, yaitu seluruh instansi kementerian/lembaga juga ikut terlibat dalam proses pengadaan utang.

Tidak ada masalah mengenai pengadaan dan pengelolaan utang, selama masing-masing pihak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya dengan baik. Karena utang hanyalah sebuah cara yang dapat mengobati berbagai macam permasalahan APBN, salah satunya sebagai sumber pembiayaan.

 

 Sumber

–  http://www.suarapembaruan.com/home/pemerintah-optimis-investor-percaya-diri-masuk-indonesia/3190

–  http://www.dmo.or.id/content.php?section=22#1

–  www.depkeu.go.id/ind/others/Buletin/BuletinEdisiVII.pdf

–  http://www.pikiran-rakyat.com/node/171290

–  http://sekorakyat.org/orang-miskin-tidak-boleh-sakit.html

–  http://fokus.vivanews.com/news/read/213024-pembangunan-gedung-dpr-digugat

–   http://metrotvnews.com/metromain/newscat/polkam/2012/01/19/79049/KPK-akan-Usut-Proyek-Banggar-DPR

–  http://www.jurnalmetro.com/nusantara/banten-a-metropolitan/3451-uang-keuntungan-proyek-di-kemnakertrans-dibelikan-mobil-mewah-anas.html

–   journal.uii.ac.id/index.php/JEP/article/view/530/442

–   engeldvh.wordpress.com/category/opini/page/3/

–   id.wikipedia.org/wiki/Korupsi

 

About Michael Simbolon

Mahasiswa DIII-Kebendaharaan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Inspirasi Bagi Sahabat-Sahabatku

"Memperkaya diri sendiri itu hal biasa, namun memperkaya bangsa ini dengan segenap jiwa dan talenta... itu baru luar biasa" by: Michael Angelo :)

"Ada orang yang dibenci karena sering mncari-cari kesalahan org,, tapi menjadikannya sahabat yang tak lagi mencela kita dan org lain, membuatq selangkah lebih dewasa... (Cela lah dirimu, karena tak ada kesempurnaan dari pada mu... dan kasihilah sesamamu karena merekahlah yang menyempurnakan dirimu...),, By:Michael Angelo.."

"Cerca dan cela adalah motivator hidup... dan kegagalan adalah alasan untuk berhasil... Keberhasilan tidaklah berhenti hanya dalam alam rencana,,, ia harus nyata diperjuangkan, oleh tekad cita-citamu... (By: Michael Angelo,, hehe:P)"

"Jangan melihat orang lain dari sudut pandangmu,, tapi lihat lah dari sudut pandang mereka,, sehingga pikiran mu tidak teracuni oleh keegoisan dan mulut ini tidak mencerca,,(mereka tidak akan berarti jika mereka sama denganku, sesungguhnya mereka berarti karena ada perbedaan diantara kami untuk saling melengkapi)"

"Bila kau merasa belum mendapatkan yang terbaik,
maka jadikanlah segala yang kau miliki jadi yang terbaik...
bagimu dan bagi orang lain...
"Sahabat Terbaik" menjadikan sahabat-sahabatnya menjadi yang terbaik^_^"
By: Michael Angelo

"Bila kau percaya padaku, tak perlu aq menjelaskan,,
dan bila kau tak percaya padaku, percuma aq menjelaskan,,
kepercayaan adalah tali persahabatan,, ketulusan adalah pemanisnya...:)"

Maret 2012
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d blogger menyukai ini: